Budidaya Jamur Tiram Menjadi Penghasilan Utama Bagi Guru Honorer di Trenggalek Ini

Mas Joko dan Mba Anna, sepasang suami istri yang menikah sekitar 6 tahun yang lalu dan sudah di karuniai seorang anak laki-laki yang sekrang sudah berumur 5 tahun. Mba Anna juga merupakan teman saya ketika semasa SMA dan kuliah dulu, yah meskipun saya sekarang perkejaanya tidak jelas juga pernah merasakan namnya bangku perkuliahan lo.

Oke kembali ke topik gaes. Mba Anna ini setelah merupakan seorang guru honorer di salah satu sekolah di Kec. Pule Trenggalek, dan sang suami ini dulu merupakan pekerja lapangan, bekerja srabutan kadang jadi pekerja bangunan atau istilahnya di kenal dengan buruh.

Tahun 2013 atau sekitar 4 tahun yang lalu sepasang suami istri ini  menginginkan bagaimana agar dia tidak selalu bekerja sebagai buruh, bekerja tidak terikat waktu, bekerja tidak ada yang menyuruh. Dia memutuskan untuk membuat sebuah home industri kecil-kecilan di rumahnya guna memenuhi kebutuhan hidupnya dan yang terpenting dia ingin bebas dari pekerjaanya sebagai buruh. Dan pilihannya jatuh pada usaha budidaya jamur tiram.

Berlokasi di Kec. Karangan Trenggalek dengan memanfaatkan lahan yang ada di belakang rumah mba Anna dan mas Joko memulai merintis usaha jamur ini. Dimuali dengan membuat rumah (kandang) berukuran 10 x 15 meter yang di didalamnya juga di lengkapi beberapa rak guna tempat menata baglok jamur tiram tersebut.
 ,
Pada awalnya pelaku utama kegiatan budidaya jamur ini adalah sang suami (mas Joko), dan kadang-kadang bahkan sering mba Anna pun ikut membantu suaminya ketika sepulang mengajar di sekolah, karena memang aktifitas utama mba Anna adalah sebagai guru honorer seperti yang saya singgung di atas.

Peran mas Joko sangat penting dalam usaha budidaya jamur ini, mulai dari pengolahan bahan baku, proses sterilisasi,  pembibitan, perawatan dalam kandang atau istilahnya di sebut dengan kumbung sampai proses memaneh mas Jokolah yang melakukan.

Untuk pemasaran hasil panen mas Joko setiap pagi mengantarkan hasil panenanya ke beberapa pasar terdekat, di antaranya pasar subuh karangan dan pasar ngegong. Di sana dia sudah memeiliki beberapa kenalan tengkulak jamur tiram.

Hari berganti hari sampai pada tahun ke 4 ini. Menurut informasi yang saya dapat beberapa hari yang lalu ketika tim banksyarif.com mendatangi rumah beliau, katanya budidaya jamur ini semakin ia tekuni karena memang dia benar benar merasakan peluang budidaya jamur ini masih memiliki pangsa pasar yang luas.

Saat ini mas Joko sudah memiliki tenaga pembantu dari lingkup tetangganya sebanyak dua orang. Mulai dari mengayak umput, mengaduk sampek mengisi log kedua orang itulah  yang melakukkanya. Dan mas joko fokus mulai pada proses sterilisasi sampai proses pemasaran.

Kekuatan produksi tiap hari adalah sebanyak 150 log, dan isi kandang saat ini sektiar 6000 log. Dari 6000 log tersebut setiap hari mas Joko mampu menghasilkan sekitar 15 kg jamur tiram segar yang siap di jual kepasar dengan harga di pasaran adalah sekitar Rp.12.000,- per kg dengan kata lain mas Joko setiap hari mampu mengantongi uang hasil panen Rp.150.000 sampai dengan Rp,180.000. Hasil tersebut tergantung bagaimana proses merawatnya. Dan dalam setiap hari pekerjaan itu selesai di kerjakan kuang dari setengah hari

Selain di jual kepasar sebagai jamur tiram segar, mbak Anna kini mulai merambah ke pembuatan camilan kecil berupa jamur crispy dari hasil panennya tersebut, dan saat ini masih dalam proses pengajuan ijin P-IRT ke dinas kesehatan setempat dengan tujuan produknya layak bersanding dengan produk-produk makanan yang sudah beredar luas di toko maupun dipasaran.

Untuk kendala sampai saat ini belum ada katanya. Namun jika ada bantuan berupa alat untuk mempercepat proses produksinya dia sangat mengharapkannya.

Sekian dulu informasi ini, di harapkan dapat menjadi inspirasi bagi kita semua.

Reaksi:
Share this with short URL:

You Might Also Like: